Hamas mengumumkan rencana pembebasan sandera Amerika-Israel, Edan Alexander, yang ditahan di Jalur Gaza. Pembebasan ini dijadwalkan berlangsung menjelang kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah, sebuah langkah yang dinilai signifikan dalam upaya meredakan ketegangan regional.
Seorang sumber anonim mengkonfirmasi bahwa pembebasan Alexander kemungkinan besar akan terjadi pada Selasa, 13 Mei 2025. Langkah ini diharapkan dapat membuka jalan menuju gencatan senjata dan memudahkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
1. Upaya Mencapai Gencatan Senjata melalui Pembebasan Sandera
Khalil al-Hayya, kepala Hamas Gaza yang diasingkan, mengungkapkan bahwa Qatar, Mesir, dan Turki turut memfasilitasi upaya pembebasan sandera.
Hamas menyatakan kesiapannya untuk negosiasi intensif guna mencapai kesepakatan akhir yang mengakhiri konflik dan mempertukarkan tahanan dengan cara yang disepakati.
Pembebasan sandera merupakan hasil dari pembicaraan empat arah antara pejabat AS, Qatar, Mesir, dan Hamas. Pihak Israel belum memberikan komentar resmi mengenai pengumuman tersebut.
2. Pertukaran Sandera sebagai Syarat Gencatan Senjata Permanen
Hamas telah membebaskan 38 sandera sebelumnya sebagai bagian dari gencatan senjata yang dimulai pada 19 Januari 2025. Namun, gencatan senjata tersebut berakhir setelah Israel melanjutkan serangannya ke Gaza pada bulan Maret.
Israel menyatakan serangan akan berlanjut hingga seluruh 59 sandera dibebaskan dan Gaza didemiliterisasi. Hamas menolak tuntutan demiliterisasi dan menegaskan hanya akan membebaskan sandera sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
Hamas menyatakan kesediaannya untuk membebaskan semua sandera yang ditawan dalam serangan 7 Oktober 2023 di Israel selatan, dengan syarat Israel menarik diri sepenuhnya dari Gaza dan menerima gencatan senjata permanen.
3. Edan Alexander dan Nasib Sandera Lainnya di Gaza
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengonfirmasi bahwa pembebasan Alexander sudah dekat dan ia dijadwalkan mengunjungi Israel pada hari Senin.
Alexander, lulusan Sekolah Menengah Atas Tenafly tahun 2022, diculik pada usia 19 tahun dari markasnya selama serangan 7 Oktober 2023. Ia merupakan salah satu dari 21 sandera yang masih hidup di Gaza.
Selain sandera yang masih hidup, Hamas juga diyakini menahan jenazah sekitar 38 sandera lainnya. Situasi ini menuntut solusi komprehensif untuk memastikan kembalinya semua sandera dan jenazah.
Pembebasan Edan Alexander merupakan perkembangan penting dalam krisis sandera yang berkepanjangan. Namun, tantangan besar masih ada di depan mata, yaitu untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen yang melibatkan pembebasan semua sandera yang tersisa dan penyelesaian konflik yang adil dan berkelanjutan di Gaza.
Keberhasilan pembebasan ini akan menjadi langkah signifikan dalam upaya menciptakan perdamaian yang langgeng di wilayah tersebut, namun tetap memerlukan komitmen kuat dari semua pihak yang terlibat. Jalan menuju perdamaian masih panjang dan penuh tantangan.





