Ekonomi Indonesia, yang pernah menjadi motor pertumbuhan ekonomi Asia, kini menghadapi tantangan serius. Pertumbuhannya tertinggal jauh dibandingkan Vietnam, sebuah negara yang dulunya juga berjuang keras untuk membangun ekonominya.
Vietnam: Mesin Manufaktur Turbo Meningkat Pesat
Arsjad Rasjid, pengusaha terkemuka, membandingkan kinerja ekonomi Indonesia dan Vietnam. Vietnam, menurutnya, telah menjelma menjadi raksasa manufaktur dunia, sementara Indonesia tampak tertinggal.
Ekspor manufaktur Vietnam telah mencapai US$ 356,7 miliar, jauh melampaui capaian Indonesia yang hanya US$ 242,8 miliar. Ini menunjukkan perbedaan signifikan dalam kekuatan sektor manufaktur kedua negara.
Kecepatan Pertumbuhan yang Kontras
Analogi balapan yang digunakan Arsjad menggambarkan situasi ini dengan tepat. Vietnam memiliki “mesin turbo” di sektor manufaktur, sementara Indonesia masih menggunakan “mesin” yang kurang bertenaga.
Akibatnya, Indonesia tertinggal dalam persaingan global. Keunggulan Vietnam dalam manufaktur membuat mereka mampu bersaing secara agresif di pasar internasional.
Deindustrialisasi Prematur: Ancaman bagi Ekonomi Indonesia
Arsjad mendiagnosis masalah utama Indonesia: deindustrialisasi prematur. Sektor manufaktur Indonesia melemah sebelum mencapai potensi maksimalnya.
Gejala deindustrialisasi prematur terlihat jelas. Pabrik-pabrik sepi, tenaga kerja beralih ke sektor informal, dan ekonomi kehilangan pendorong utama pertumbuhannya.
Tanda-Tanda Melemahnya Sektor Manufaktur
Sepinya pabrik menunjukkan penurunan produksi dan investasi. Perpindahan tenaga kerja ke sektor informal menandakan kurangnya daya saing di sektor formal.
Kehilangan pendorong pertumbuhan ekonomi berarti Indonesia gagal memanfaatkan potensi sektor manufaktur untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan negara.
Strategi Belajar dari Vietnam: “Copy with Pride”
Arsjad menyarankan Indonesia untuk “copy with pride” dari keberhasilan Vietnam. Ini bukan sekadar meniru, tetapi mempelajari dan mengadopsi kebijakan yang terbukti efektif.
Langkah pertama adalah reformasi kebijakan yang konkret, bukan hanya wacana. Indonesia perlu membuka lebar pintu bagi investor asing dan memberikan insentif yang menarik.
Langkah-Langkah Strategis untuk Mengejar Ketertinggalan
Mempermudah iklim usaha sangat penting untuk menarik investasi. Indonesia juga perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan vokasi.
Pengembangan infrastruktur yang memadai untuk mendukung konektivitas antar daerah juga krusial. Terakhir, Indonesia harus fokus memproduksi barang-barang yang dibutuhkan pasar global.
Kesimpulannya, Indonesia perlu melakukan perubahan fundamental di sektor manufakturnya. Dengan mempelajari keberhasilan Vietnam dan menerapkan kebijakan yang tepat, Indonesia bisa kembali menjadi pemain utama di kancah ekonomi global. Ini membutuhkan komitmen kuat dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengatasi deindustrialisasi prematur dan membangun kembali daya saing bangsa.





